Fermentasi mikroba mengacu pada proses di mana mikroorganisme, dalam kondisi yang sesuai, mengubah bahan baku menjadi produk yang dibutuhkan manusia melalui jalur metabolisme tertentu. Tingkat produksi fermentasi mikroba terutama bergantung pada karakteristik genetik strain dan kondisi kultur. Secara umum, kondisi yang memengaruhi hasil mikroorganisme meliputi: sumber karbon, pH dan waktu kultur, suhu fermentasi, dan kecepatan serta amplitudo pengocok. Di antara faktor-faktor ini, faktor-faktor seperti sumber karbon dan nilai pH ditentukan oleh media kultur, sedangkan suhu fermentasi dan kecepatan serta amplitudo pengocok dicapai melalui "pengocok penghilang warna." Suhu pengaduk dekolorisasi memiliki efek multifaset pada fermentasi:
1. Suhu memiliki dampak signifikan pada jumlah spora dan sel hidup yang dihasilkan selama fermentasi. Suhu bertahan hidup umum untuk mikroorganisme adalah antara 20 dan 35℃; suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menyebabkan inaktivasi atau bahkan kematian mikroorganisme. Dari perspektif kinetika reaksi enzim, suhu yang lebih tinggi meningkatkan laju reaksi, mempercepat pertumbuhan dan metabolisme, dan mempercepat pembentukan produk. Namun, suhu yang lebih tinggi juga menyebabkan inaktivasi enzim yang lebih cepat dan penuaan sel prematur, yang memengaruhi pembentukan produk.
2. Suhu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan akumulasi metabolit berbeda untuk jenis bakteri yang sama. Misalnya, suhu yang sesuai untuk bakteri penghasil penisilin adalah 30℃, sedangkan suhu optimal untuk produksi penisilin adalah 25℃. Hal ini mengharuskan penyesuaian suhu sesuai dengan produk yang diinginkan dan pengaturan suhu yang berbeda pada berbagai tahap produksi.
3. Suhu juga memengaruhi komposisi dan karakteristik enzim. Misalnya, enzim yang diproduksi pada suhu 55℃ mempertahankan 88%–99% aktivitasnya setelah disimpan pada suhu 90℃ selama 60 menit; enzim yang diproduksi pada suhu 35℃, dalam kondisi yang sama, hanya mempertahankan 6%–10% aktivitasnya.
4. Suhu yang berbeda juga memiliki efek yang berbeda pada metabolit yang diproduksi oleh bakteri. Misalnya, ketika menggunakan *Streptomyces chlortetracycline* NRLRB-1287 untuk fermentasi tetrasiklin, pengaturan suhu fermentasi di bawah 30℃ menyebabkan peningkatan sintesis klortetrasiklin. Peningkatan suhu fermentasi mendorong sintesis tetrasiklin. Pada suhu 35℃, *Streptomyces chlortetracycline* hanya menghasilkan tetrasiklin, hampir menghentikan sintesis klortetrasiklin.
5. Suhu juga memengaruhi sifat fisik kaldu fermentasi, seperti viskositasnya, kelarutan dan laju transfer substrat dan oksigen, serta laju dekomposisi dan penyerapan substrat tertentu. Suhu fermentasi memengaruhi kinetika fermentasi dan biosintesis produk dengan memengaruhi kondisi-kondisi tersebut.
Oleh karena itu, menjaga suhu yang tepat selama fermentasi sangat penting untuk pertumbuhan sel yang lancar dan sintesis metabolit. Kontrol suhu yang tepat menjadi salah satu parameter penting saat memilih pengaduk dekolorisasi.